Khutbah Jumat: Bijak Lalu Untung Istighfar

 Kamis, 25 Juli 2019 pukul8:00 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 25 Juli 2019 pukul 8:00 am

Keutamaan lagi Manfaat Istighfar ini adalah rekaman khutbah Jum’at yg disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, dalam Jum’at, 16 Dzul Qa’idah 1440 H / 19 Juli 2019 M.

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهقال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Senantiasa kita memuja Allah yg senantiasa Allah turunkan kepada kita beraneka ragam macam nikmat-nikmatNya yg tak terhitung dan tidak terukur. Dan lezat yg tertinggi artinya saat seseorang hamba diberikan sang Allah lezat keyakinan, nikmat untuk senantiasa kealiman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada berisi hidupnya. Sehingga ia terus diberikan sang Allah pada hatinya kadar atas nama kekuatan jatah menjalani instruksi-perintahNya dan menghindari tabu-laranganNya. Tetapi ketika seorang hamba tak mensyukuri lezat-nikmat tersebut lantas menggantinya lalu kemaksiatan pada Allah -sedangkan telah tiba pada dirinya maklumat lalu bayyinah- dan sampai-sampai bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala menyamarkan sira dan akibatnya Allah pun membinasakan ia. Akibat ketimbang beliau tidak mau mudik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits yang dikeluarkan sang Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَنْ يَهْلِكَ النَّاسُ حَتَّى يُعْذِرُوا مِنْ أَنْفُسِهِمْUS US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US

“Manusia tidak hendak labas mencapai mereka memusnahkan renta (pembebasan) bermula pribadi mereka perseorangan.” (Hadist Riwayat Ahmad)

Maksudnya -kicau para ulama- memusnahkan tua dengan berjibun bergerak dosa sedangkan Allah menyayangi tua, Allah betul-betulpemaaf kepada hambaNya, Allah maafkan setiap hamba-hambaNya yang bertaubat lagi istighfar kepadaNya. Tapi waktu seseorang hamba lebih asyik lalu maksiatnya, lebih asyik sira memaksiati Allah dengan menyalahi perintahNya, dia bukan bakal bertaubat kepadaNya, meskipun beliau ingat maka itu perbuatan salah yg dilarang sang Rabbnya. Maka disaat itu ia telah menghalalkan dirinya untuk diadzab sang Allah. Allah walau meningkat darinya maafNya lantaran dia tak akan harap maaf kepadaNya, bukan juga ia bertaubat kepadaNya.

Maka Ummatal Islam, jangan sampai saya melenyapkan bermula pribadi saya perseorangan pembebasan Allah. Padahal pembebasan Allah sangatlah lega dengan Allah sungguh-sungguh pengampun kepada hamba-hambaNya. Tapi saat kita tidak mau dimaafkan sang Allah, kita lebih gemar bertindak syirik, lebih gemar menyalahi pesan Allah dan kita walau tak ingat apakah Allah ridha kepada saya maupun tak, maka disaat itu jangan salahkan andaikan Allah mendepak adzabNya pada kita.

Maka dari itulah Allah Ta’ala bersepakat bukan mau sempat mengadzab suatu rombongan yang mereka selalu istighfar kepadaNya. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّـهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Tidak entah Allah mengadzab mereka sementara mereka senantiasa istighfar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Anfal[8]: 33)

Maka perseorangan-pribadi yang selalu memohon ampun, memohon pada Allah maafNya, bukan mungkin Allah berikan kepada mereka sanksiNya pada dunia walaupun di akhirat. Karena Dia sudah pernah menjuluki diriNya sebagai Al-‘Afuw (yang maha pengampun ), Dia sudah menjuluki diriNya seumpama Al-Ghofur (yang maha pemaaf) dengan Dia maha pengampun lagi maha pecinta pada hamba-hambaNya.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat memaafkan hamba-hambaNya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللَّهِ

“Tidak terdapat yg amat gemar menaruh udzur berawal Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka Allah menurunkan buku-buku kudus, Allah mendelegasikan para Rasul. Hal ini agar insan mengetahui Allah lagi biar mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga dengan tegaknya hujjah pada dirinya, momen dirinya tahu lagi sudah pernah mengetahui pengumuman yang sudah pernah tiba kepadanya, tapi dirinya tak bakal bertaubat pada Allah, sira bukan mau untuk tuntut pembebasan kepada Allah, maka Allah pun hilangkan udzur darinya. Allah walau tidak bersama memberi ampunan kepadanya, kemudian mendadak Allah menaruh azab kepadanya. Maka mintalah kepada Allah maaf mau syirik-dosa saya.

Sungguh Rasulullah yakni manusia yang sudah dijamin sang Allah diterima nirwana, Rasulullah telah diampuni dosanya yang sudah kemudian maupun yg lalu, akan melainkan dia manusia yg amat meluap istighfar pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap insan. Taubatlah (beristigfar) pada Allah karena kami -kicau Rasulullah- terus bertaubat pada-Nya berbobot sehari beberapa 100 bengawan.” (HR. Muslim)

Bayangkan, ia manusia yang sudah pernah dijamin terkabul surga , telah dimaafkan sang Allah hendak kesalahannya, dia sedang cuma banyak beristighfar pada Allah. Bagaimanakah lagi saya yang berjibun bertindak dosa?

Tetapi demikianlah perseorangan yg meluap berbuat syirik dihiaskan kepada dia dosa-salah tadi. Yang amat murka alam ketika dijadikan dia lupa kepada syirik-dosanya beserta lebih suka kenang kesalahan-maksiat orang lain, kemudian kemudian beliau menduga dia tak berdosa. Sehingga pada detak itu kecuali dirinya bukan hendak istighfar pada Allah, beliau kendati terkena kompleksitas ujub pada dia. Sehingga dalam termin perseorangan semacam ini -na’udzubillah- beliau bukan pulih kepada Allah. Bahkan ia menganggap dia lebih bagus dari diri lain.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكمKhutbah kedua – Khutbah Jumat: Keutamaan dan Manfaat Istighfar

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Sungguh betul-betulberbahagia ketika seseorang hamba lebih mengingat syirik-maksiat dia ketimbang maksiat pribadi lain. Orang yg selalu membayangkan dosa, beliau bakal kurang ingat pada maksiat-maksiat perseorangan lain. Diberikan sang Allah beraneka ragam motif kenyamanan-keenakan yang bukan diberikan kepada yg tidak sempat hirau mau salah-dosanya. Mereka yg selalu memikirkan syirik diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: Taubat kepada Allah. Bila seseorang hamba meluap bertaubat, Allah walau akan  mencintainya. Bukankah Allah berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

“Sesungguhnya Allah cinta pada badan yang selalu bertaubat kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah[dua]: 222)